post

Hot - Threads !!!

Coming Soon ...

_________________________________________________________________Upload Karyamu___________________________________________________
  • Because of Love (Big Love from ABISS)

    Hari semakin pagi. Tubuhku saja yang enggan bergerak. Sedari kemarin malam gelisah, kepala menyerang dan muntah. Berputar-putar bagai roda sepeda yang tak kunjung mendapat tahanan. Aku hanya berpaku pada kasur tipis yang kubentang di atas lantai. Tubuhku semakin sakit menyambut hari. Hari ini sudah tersusun rencana di kepalaku. Sebuah janji. “Kak, aku udah kirim uangnya loh. Cepat beli rosarionya ya. Terus pajang. Biar kakak gak lupa nerusin cerpen dan puisi, gak lupa belajar, gak lupa sate, gak sedih-sedih lagi, dan kakak akan selalu mengingatku.” Itu perbincangan dengan Tasya 3 minggu lalu. Rasa sayang dan perhatiannya sering sekali membuatku untuk membuang-buang pulsa tiga ribu rupiah untuk meneleponnya. Sayang,,, aku belum punya waktu yang pas untuk menepatinya.

    Hujan mengguyur kota ini. Sudah berbulan-bulan lamanya aku menunggu turunnya. Namun baru kali ini. Aku suka hujan. Hujan yang menyadarkanku kasih sayang, rindu, cinta, dan pengorbanan. Aku hanya duduk termenung di balik balkon lantai dua persinggahan sementaraku. Aku dan Mei hanya memandang-mandang semakin derasnya buliran air itu turun. “Rindu sekali rasanya…” Mei mengawali semua. Iyaaa, hujan bisa mengobrak-abrik isi di dada dan menimbulkan kerinduan yang sudah berusaha di tahan. Itu mengapa aku menyebut hujan sebagai wujud kasih sayang, rindu, cinta dan pengorbanan. Saat kau melihatnya, semua hal itu akan terasa. Teringat kembali saat seseorang atau bahkan dirimu sendiri berkutat di tengah hujan. Berkorban karena rasa sayang.

    Lagi-lagi aku kembali tak mengerti dengan apa yang terpikirkan di kepalaku. Semuanya tak punya arah dan belum memilki arti yang pasti. “Terkadang aku juga bisa merasakan puncak dari kerinduan itu dan ingin mengungkapkan rindu yang serindu-rindunya.” “ Semua itu wajar, Mel. Kenapa?? Itulah rasa kasih sayang itu. Rindu sebagai perwakilannya.”

     Semakin lama semakin gelap. Aku tak yakin akan jadi atau tidak. Memilih pergi ke A atau ke B. keduanya sama-sama berprioritas satu dalam kepalaku. Semakin pusing…

    ***

    Malam-malam yang sepi. Semua sudah pergi. Beberapa kamar tertutup gelap. Tak berpenghuni. Esok akhir pekan dan ETS terakhir yang harus kulalui. Malam yang dingin merusak kebaikan di tubuhku. Kepala semakin pusing, perut sakit, dan muntah. Kejam… saat ini terlalu sepi untuk kurasakan ini. Dan persiapan untuk besok belum kusediakan.

    Sesaat hati dilema. Memaksakan diri atau tertidur? Terakhir,, yang kupedulikan hanya kondisi tubuhku karena itu yang akan menjadi pertanyaan pertama ibuku.

    Sabtu pagi nan sepi. Tak ada yang mengajak makan dan rintikan hujan menjadi kawan. Lagi –lagi aku lupa untuk mengawali sesuatu yang baik.

    ***

    Semakin siang, aku hanya berjalan kaki sendiri. Tak terpikirkan buruknya hasil ujian tadi. Yang penting, tubuhku pulih dan tak menjadi beban untuk di kejauhan sana. Kukemas semua dan mencapai tujuan. Aku hanya melihat jalanan kosong dan ramai. Beberapa orang lalu lalang atau tak berpenghuni. Ada kehijauan atau hanya susunan-susunan rumah kecil. Aku hanya melamun atau tersenyum-senyum sendiri. Ada hal yang banyak ataupun sedikit terbesit di otakku. Sejenak saja aku ingin melupakan deadline yang belum mencapai akhir. Aku ingin melihat dunia lagi setelah sekian lama hanya berkutat pada tugas, kampus, dan ujian.

    Perjalanan semakin jauh, semakin tinggi. Aku hanya melihat kaca jendela yang dibasahi buliran hujan. Rindu lagi lagi datang dan hatiku semakin tenang. Rasa sayang semakin dalam. Aku mengucap syukur pada Tuhan. “Aku ingin memiliki hari ini dan esok sebelum aku harus kembali,” aku berteriak dalam hati. Aku menyimpan alat penghubung ini agar tak satu pesan pun menggangguku. Semakin tinggi semakin dingin. Semakin menembus kulit tapi aku cinta ini. Pemandangan indah menyulap mataku serasa menjadi penghangat tubuh. Semakin indah semakin dalam cintaku. Wujud cinta yang nyata terpampang jelas di hadapanku.

    ***

    Waktu ikut menjawab tanda tanya besar di hatiku. Entah pertanyaan apa itu, sejelasnya aku menemukan jawabannya di tempat mobil yang kutumpangi diparkirkan. Pikiranku berguncang. Bingung…

    Mulai kugerakkan perlahan-lahan kakiku dan meyakinkan bahwa langkah itu pasti. Semua dalam kediaman hingga aku, Dum, Sep, dan Bri pun terbawa suasana untuk terdiam. Mulutku mengatup dan pikiranku kembali diberi tanda tanya. Apa yang terjadi? Aku memindahkan yang kubawa keluar dari mobil. Beberapa berkumpul. Aku melihat mata Mei dan Rosa memerah. Seputaran selaputnya basah. “Ada apa?” kebingungan bertumbukan di otakku. Diberi tahu tapi proses iyan gtercerna di kepalaku begitu lambat hingga kebingungan it uterus menyala-nyala hingga aku tak lagi berani untu kmengumbar keceriaan di wajahku.

    ***

    “Yang baru datang agak menyingkir dulu ke kiri.”

    ABCDEF dan seterusnya terobrak-abrik dalam kepalaku. Satu per satu pertanyaan disusul dan kepalaku semakin pusing untuk memrintahkan otakku segera diam dari kebingungan itu. Perlahan-perlahan, kuharap ini bukan cobaan. Pikiran anak kecil itu muncul karena emosi menguasaiku. Aku hanya bisa diam melihat temanku ditanyai pada pertanyaan yang aku tak mengerti berawal dari mana. Lagi-lagi pikiran negative menguasai otakku. Emosi mengaduk-aduk perasaan. Kenapa dan ada apa serta apa alasannya? Pulanglah pulang…

    Aku menghibur diri dengan lampu-lampu yang bagaikan ribuan bintang yang terpampang indah di balik punggungku. “Sabar… setelah ini, mungkin hatimu akan terhibur untuk melihatnya lagi.” Aku menghibur diri dari pikiran-pikiran aneh yang menambah pusing di kepalaku. Waktu makan malam tiba. Satu per satu melempari telingaku dengan penjelasan-penjelasan yang juga tak bisa kumengerti. Ingin sekali marah dan menghentikan semua. “Apa itu pos? Balik ke panitia? Bang Wel nangis? Apa yang kalian bicarakan?” aku hanya egosi pada diriku sendiri dan tak peduli apa yang sudah mereka alami.

    Terus mengalir bagai air. Aku hanya mengerti duapuluhlima persen dari apa yang mereka jelaskan. Sedikit penyeselan mengobok-obok perasaanku, mengapa aku harus datangnya hari ini. Aku benci dibingungkan karena ketidakmengertianku sendiri.

    “Apa maksud dari ini semua, Git? Gak ngerti aku..”

    “Mereka buat kesalahan. Jadi, warga merasa kegiatan yang dibuat panitia itu gagal…….” Semakin larut semakin gelap. Penjelasan kembali kudapat dari Bang Velix dan saat yang tepat otakku berproses dengan cepat. Sesaat, aku melanggar janjiku dieperjalanan tadi. Aku membuka ponsel. 17 panggilan tak terjawab, 1 pesan masuk.

    “Kak, Erik masuk rumah sakit lagi. Mohon doanya ya. Kali ini dia sesak lagi.” Sebaris pesan dari Tasya. Pikiranku semakin kacau. Ingin segera masuk kamar, tapi….

    ***

    Larut semakin larut. Berbagai pertanyaan terlempar ke telingaku. Aku hanya bisa diam dan pikiranku melayang-layang. “Bagaimana Erik di sana? Ini sudah kesekian kalinya ia masuk rumah sakit.” Suara meninggi dan gema-gema suara itu terdengar jelas ke telingaku. Ingin sekali teriak dan memberhentikan yang terjadi. Lagi-lagi aku dikuasai oleh emosi. Aku tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan kehilangan semua konsentrasiku.

    Hatiku semakin tertusuk. Aku dan teman-teman hanya diam. Diam pada keadaan yang mungkin tak tahu harus menjawab apa atau tidak bisa bangkit dari bawah tekanan? Aku hanya berpaku pada langit hitam, kusebutkan namanya agar pikiranku kembali ke tempat itu. Satu per satu aku memandangi kakak abang yang duduk dan berdiri di hadapanku. Aku yakin mereka menyayangi kami, tapi….
    Jam terus berputar hingga mengganti hari. Sesaat pikiranku terdesak, merasa sangat bersalah. “Seandainya pertanyaan-pertanyaan itu terjawab dengan baik, mereka tak akan berkorban seperti itu.” Hatiku ingin menangis akan kebodohanku yang juga termasuk ke dalamnya. Teriakan yang menarik pita suara, letih yang menggigit seluruh tubuh, dan dingin yang meremuk tulang. Sama-sam letih tapi pasti punya tujuan.

    Aku hanya bisa mengikuti alur dan membiarkan waktu menjawab, sepenuhnya konsentrasiku hilang dan beberapa hal  aku tak tahu apa awalnya.

    “Seharusnya kalian jawab dan saling melengkapi satu sama lain. Gak tau si A bantu yang B gak tau bantu C. Dan menjawab itu harus dipikirkan dulu. Belajarlah pola pikir mahasiswa jangan bawa-bawa pola piker sewaktu kalian SMA dulu. Kalian harus bisa hidup di Surabaya ini. Kakak abang yang di sana itu sebenarnya sayang sama kalian. Kasian mereka lihat adek-adeknya seperti ini.” Bang Romi mengarahkan kami untuk berbuat yang seharusnya sedari tadi kami perbuat. Lagi-lagi rasa kasih itu kutemukan. Kali ini, kasih sayang seperti seorang ayah kepada putra putrinya. Takkan melepas putra putrinya pergi ke wilayah orang tanpa bekal yang mantap. Aku hanya bisa diam dan berharap aku tak menangis karena mengingatnya.

    ***

    Subuh menyapa... rasa bersalah semakin menggugah. Aku hanya ingin bisa menjawab ataupun berkata-kata. Tapi, semuanya hilang dari dalam otakku apa yang sudah kudapat dari Bang Romi. Ini sebuah kesalahan. Satu per satu tampak lelah, mengantuk dan goal dari semua ini belum tercapai. Pikiranku benar-benar tak lagi bisa diajak kompromi. Terbagi-bagi entah ke mana. Aku hanya memandang pengorbanan. Kasih sayang… kasih sayang itu pengorbanan. Karena mereka sayang maka mereka ingin yang terbaik. Letih lesunya bukanlah masalah, tapi kami yang tak kunjung bisa. Aku hanya bisa bersyukur dan berterimakasih diberikan Tuhan kakak abang seperti mereka…

    Semakin lama semakin dingin. Api unggun menyala-nyala. Aku menghadap Bang Wel untuk sebuah komitmen di atas kertas. Kata demi kata masuk ke dalam hati. Sesaat pikiranku kembali ke rumah. Aku tak lagi mendengar kata demi kata yang tersebut. Sebagian pendengaranku kembali hilang dan aku ingin sekali menangisi kelemahanku. “TIDAK…” aku sudah janji pada ibu untuk tidak menangis.

    ***

    Tahap demi tahap… sudah waktunya. Namun, menurutku masih ada yang kurang dari kami. Banyak… tapi sikap optimis pada sebuah proses yang akan mencapai hasil baik itu, yakin untuk berjuang keras. Pola pikir, sikap, dan tanggung jawab semuanya masih terbawa seperti dulu. Perubahan itu butuh proses dan proses itu memerlukan waktu dan waktu akan membuahkan hasil.

    “…terimakasih ABISS untuk segalanya, kau berikan lagi kesempatan itu. Tak akan terulang lagi, semua kesalahanku yang pernah menyakitimu.”

    Lagu itu terdendang dengan indah. Seakan-akan menjadi lagu yang teramat indah yang pernah kudengar. Menggugah hati dan membiarkanku merasakannya sebagai bukti kalau hari ini kasih sayang itu semakin kuat. Dengan sacral, semuanya berjalan dengan sempurna. Bersalaman yang diselimuti oleh hangatnya api unggun. Kembali Mars Budi Mulia terdengar setelah 2 tahun tak pernah terdengar. Teringat semua masa-masa dulu dan itu keluargaku. Keluarga Budi Mulia.

    ***

    Pagi subuh di kota Batu. Aku dan Veby duduk di atas aspal jalan depan villa. Memandang-mandang langit dan berbagai kerlipan lampu-lampu di depan mata. Gunung pun berdiri tangguh menghadap langit. CiptaanMu menakjubkan.

    Kembali kuberpikir. Dahulu, bapakku juga begitu. “Ia tak akan melepas kami keluar sebelum kami benar-benar mampu hidup di tanah orang.” Karena kasih sayang. Iya kasih sayang, cinta, rindu dan pengorbanan. Aku mendaftarkannya ke dalam list kerinduanku dalam titik-titik hujan yang kusukai. Menganggap mereka sebagai sosok seorang ayah yang menjaga aku dan teman-temanku di sini.  Terimakasih untuk segala kasih sayang dan perhatian.

    Aku akan berusaha berjalan mengapa Engkau berikan aku ke sini di saat awalnya kumenolak. Tapi, kuyakin ada rencana di balik itu dan salah satunya yang kulihat Engkau memberikan orang-orang terbaik agar kujuga  tak berlarut pada bulir-bulir pilu yang masih menempel dan kutemukan sosok-sosok pelindung dan penjagaku di sini. Terimakasih Tuhan untuk segala perkara suka maupun duka yang Engkau jadikan dalam hidupku.ABISS, keluargaku…. Biarkan aku mengucapa syukur pada Tuhanku setiap kali aku mengingat kamu dalam doaku….

    ***

    “Oh Tuhan indah nya semua ini…”

    “Tuhan itu sangat  baik, By. Memberikan segala indera dan sebuah kesempatan untuk berada di sini dan melihat semua. Keindahan alam semesta. Kuharap satu bintang jatuh biar kita make a wish.”

    “Ini gelap terakhir kita. Nanti kita udah kembali.”

    “Disyukuri aja. Ayok masuk, tidur.”

    ***
    Oleh : Gresela Sitorus

  • Blog Baru ABISS

    Pusat informasi ALUMNI BUDI MULIA SIANTAR SURABAYA kini semakin diperbaharui dengan peluncuran blog baru.
    Follow, please! Klik tombol follow di sebelah kiri page.
    Arek-arek ABISS bebas berekspresi di blog ini. Informasi ABISS, puisi, cerita, curhat, foto, dan apapun juga dapat anda post disini. Caranya gampang.
    Kirimkan post kamu ke surabaya.abiss@gmail.com, dan hubungi admin (081396391891).
    Post kamu akan segera diterbitkan.
    Thx, happy blogging! :)
  • . ALUMNI BUDI MULIA SIANTAR SURABAYA. All Rights Reserved.