- Home>
- “Kebahagiaan Bahkan Lebih Murah Dari Diskon Midnight Sekalipun”
May 11, 2014
Minggu (11 Mei
2014) pukul 16.30 WIB, Fred (nama samaran), 23, terjaga dari tidurnya. Bukan
karena dibangunkan oleh temannya, bukan karena alarm jam berbunyi, dan bukan
juga karena panasnya Surabaya sore itu, tetapi karena satu hal. Satu hal sederhana
yang sering kali luput dari kesadaran manusia dikarenakan oleh rutinitas yang
padat. Satu hal sederhana yang menimbulkan banyak asumsi dari orang-orang. Satu
hal sederhana yang sebenarnya murah, tapi sering orang menganggap itu mahal.
Satu hal sederhana itu, dalam bahasa Indonesia dapat disebut dengan
‘Kebahagiaan’.
Skip,,sepertinya
paragraf awal yang tadi terlalu kaku menjadi paragraf pembuka untuk bacaan yang
ringan ini. So, ijinkanlah Fred untuk menceritakan kisah ini dengan bahasa yang
lebih fleksibel, bisa jadi sedikit ‘alay’ atau bisa jadi…apapun itu, yang pasti
Fred hanya berusaha memastikan para pembaca yang cukup setia ini tidak tertidur
ketika membaca Tugas Akhir, eh, maksud Fred adalah cerita ini..hehe..
Well.. mari kita
diawali dengan kata ‘Fakta’…
Fakta menjadi
bumbu penguat masakan (baca:cerita) ini. Ya, kisah ini adalah benar adanya
tanpa ada penambahan atau pengurangan adegan. Seperti yang tertuang pada
paragraf pembuka tadi, Fred terjaga dari tidurnya, dan ingin mencari potongan
kecil kebahagiaan sore itu. Langsung saja Fred bergegas dari kasurnya, lalu
keluar dari kamarnya sambil membawa benang. Tebak apa selanjutnya? Apa dia
ingin menjahit? Hampir benar.. Fred memang ingin menjahit,,menjahit potongan
kebahagiaan di hari Minggu itu. Fred saat itu hendak bertindak sebagai seorang
alay (anak layangan). Tanpa berpikir panjang, langsung saja Fred menyantroni
warung sekitar untuk merazia,, eh maksudnya membeli layangan.
Angin sore itu sepertinya
sedikit malu-malu, tapi rayuan pulau kelapa berhasil membujuk kehadirannya.
Akhirnya layang-layang pun berhasil menari-nari di panggung udara mengikuti
irama angin yang dinamis. Sebenarnya sederhana sih, intinya layangannya
naikklah ya kan,,
Melihat Fred
yang cukup atraktif sebagai konduktor layangan, Zaky (bukan nama samaran) dan
teman2nya pun menghampiri Fred untuk melihat atraksi dari jarak dekat. Sekadar
info, Zaky adalah anak tetangga di sekitar kediaman Fred. Zaky dan temannya pun
berdecak kagum seraya tak percaya melihat manuver layangan itu yang cukup
ekstrem dilakukan oleh Fred. Merasa diatas angin, Fred tetap rendah hati dan
tidak sesumbar. Namun, satu masalah pun muncul. Karena manuver tadi, benang
layangan yang berada di tangan Fred menjadi kusut. Alhasil, Fred pun harus
memperbaiki benang yang kusut tersebut sembari mengontrol manuver dari
layang-layang. “zakiii….Zakkkyyyyy..Jakkiiee’’.. suara 10 db (asumsi) ini cukup
memecah konsentrasi Fred memperbaiki benang. Oh, ternyata ompung Zaky datang
menghampiri Zaky untuk menyuruhnya mandi. Fred pun kembali fokus pada benang.
Memakan waktu yang cukup lama ternyata untuk memperbaiki benang ini. Finally,
benang itupun tidak kusut lagi, dan Fred pun menengadah ke atas untuk melihat
layangannya.
“Whattt???
Damn..
..Ternyata ada
layangan lain yang berusaha mendekati layanganku, oke, dia jual biar gw yang
beli” celetuk Fret pelan.
*Sekadar info
berikutnya, dalam tradisi layangan, adanya perlakuan layangan yang berusaha
mendekati layangan yang lainnya, dapat dirangkum dalam satu hipotesa, yakni
hipotesa Hukum Rimba (Yang kuatlah yang berkuasa)
Zaky mendengar
celetukan Fred, dan memperhatikan Fred dengan raut wajah bingung, mungkin dalam
hatinya dia berkata “opo maksud e? aku sih rapopo”.
Fred yang khawatir
layangannya yang seharga Rp.1500 itu kalah (in another languange called
“LEONG”) akhirnya berusaha memenangkan persaingan itu. Segala kemampuan yang
dimilikinya dikerahkan dengan sepenuh hati.
Persaingan
semakin sengit. Manuver kedua layangan tersebut bagai elang yang saling
menerkam, menerjang, seraya ingin menunjukkan kekuatannya.
Tak ayal,
persaingan itu pun membuat atmosfir radius 5 meter dari Fred menjadi sangat
panas. Penonton pun ikut panas memberikan dukungan kepada Fred. Entah apa yang
ada di benak Ompung Zakky, melihat Fred yang sibuk tarik ulur benang, spontan
ompung ini berinisiatif membantu Fred menggulung benang agar tidak kemb
ali kusut. (Mauliate da ompung).
Akhirnya,
pengalaman tetaplah guru yang paling berharga dan kemampuanlah yang berbicara.
Berbekal kemampuan dan pengalaman di masa kecilnya, Fred menyudahi sandiwara
‘kecil’ itu. Layangan lawan pun melayang tanpa arah dan tak bisa bangkit lagi,
tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Leong !!!
Fred pun tidak
dapat menahan senyum kebahagiaan di wajahnya. Hidangan penutup sore hari yang
begitu indah. Selebrasi kemenangan itu pun di tutup Fred dengan menyeruput kopi
CAK DUL..
Demikianlah
kisah Fred, adapun nama samaran tersebut dimaksudkan guna menjaga privasi dan
keamanan dari tokoh sebenarnya, dan selain dari nama samaran itu adalah fakta
adanya..
Berikut barang buktinya ..
*Fred adalah penggemar klub di liga Inggris
yang saat ini keadaannya kurang baik. Bahkan tidak lebih baik dari Liverpool
(untuk saat ini sih,,hehe) dan diatas semuanya itu, Fred hanya ingin memberi
hiburan/humor semata kepada warga ABISS..tidak ada niatan lebih,mohon maaf
apabila ada yang tidak mengenakkan dihati pembaca, sekali lagi, ini hanya untuk
humor.. yah hitung-hitung semoga semua yang membaca ini terhibur dan bahagia,
kalo memang iya, berarti judul cerita diatas memang tepat..hehehehe..
CMIIW ^^
CMIIW ^^
Regard, Fred..
Oleh : Simon Lubis (ABISS '09)
Oleh : Simon Lubis (ABISS '09)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments